Menikmati Penderitaan sebagai sebuah Anugerah

Ada sebuah cerita tentang seorang anak muda yang stres dengan kehidupannya. Setiap harinya harus serba kekurangan. Ia bekerja sebagai seorang buruh tani. Gaji yang ia dapatkan hanya bisa untuk makan tiap hari nya. Ada yang berbelas kasihan memberi makan sudah untung kadang ia juga merasakan tak makan dalam 2 hari. Lalu ia mencoba kesana kemari cari pekerjaan lain tapi tak kunjung ia dapatkan. Ia bosan dengan kehidupannya yang begitu sangat menderita baginya. Akhirnya ia bertemu dengan seorang janda kaya raya dan menikahinya. Tak lama kemudian janda itu mati. Si anak muda pun menikmati harta janda itu dan ia sudah tak mau bekerja lagi. Ia hanya ingin menikamati setiap hari nya dengan berfoya-foya, jalan-jalan pakai mobil mewah, ke clubing, dan apapun kegiatan tiap harinya hanya untuk senang-senang dan menghabiskan uang.

Hari demi hari ia lalui seperti itu. Semua keinginannya serba terpenuhi. Dan semua itu berlalu dengan cepat. Sebulan, 2 bulan, 3 bulan dia mulai bosan. Dia tidak mau segala keenakan ini lagi. Rasanya bikin eneg dan mual. Ia jadi lupa dengan ibadah dunia nya. Ia jadi lupa dengan Tuhan nya. Bahkan ia lupa pernah sengsara sehingga menjadikannya orang yang kufur nikmat.

Suatu hari ia berfikir untuk mencoba mencari pekerjaan lagi tetapi alhasil pekerjaan pun tak kunjung ia dapatkan. Ia mulai bosan dan ingin mengulangi kehidupannya seperti dulu. Kehidupan yang serba kekurangan tetapi menjadikan nya tau baha disetiap kesusahannya ada kenikmatan.

Pelajaran yang bisa kita petik dari cerita pendek ini adalah “Manusia itu baru ingat dan menghargai segala kenikmatan yang dia rasakan, ketika kesedihan dan kesengsaraan juga dirasakan nya.” Kehidupan adalah sebuah keseimbangan antara kenikmatan dan penderitaan, inilah yang memperkaya warna kehidupan kita. Selamat mengahargai kesengsaraan anda, karena disanalah anda akan menemui kenikmatan yang lebih.

 

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian